GAMBAR ULANG (RE-DRAW) MAP NUSANTARA KALAU JAGO BERNEGARANYA


Lama usulan kita kalau mau menyelesaikan konflik di laut china selatan sisi Indonesia maka dalam catatan geografi Nusantara ada baiknya kita ubah dan tidak lagi menyebut nama laut China selatan.

Laut ini di “klaim” oleh Tiongkok sebagai tradisional fishing ground China sejak ribuan tahun yang lalu dan itu harus dihormati ( bacanya : negara yang ngak punya biji harus taat). Untuk itu cost guard China patroli sampai Natuna.

Nah ini kalau yang faham dunia kemiliteran dan pertahanan sebenarnya ini penghinaaan, sekali lagi kalau yang faham loh ya. Kalau fans pejabat dan buzzer jangan harap faham, dikira semua pejabat sekarang semua faham bernegara, denger cuk, faham poilitik iya, faham bernegara itu lihat sikapnya.

Kalau bossman ini bukan banyak tahu tetapi yang diketahuinya ya cuma itu itu aja, masih terus belajar. Gayanya aja jawa timuran ancuk ancuk-in orang.

Balik ketopik, apa maksud dari “kalau yang faham dunia kemiliteran dan pertahanan”?

Mengawal laut itu navy atau naval atau angkatan laut. Kalau penjaga pantai itu coast guard di bawah navy, angkatan laut. Jadi laut China selatan nelayan Tiongkok bukan dikawal navy tetapi di kawal penjaga pantai, alias semua laut China selatan itu “pantainya” tiongkok.

Ini penghinaan kalau saya pemimpin sebuah negara, kalau angkatan lautnya yang kawal boleh.

Jadi Indonesia itu di laut China selatan angkatan lautnya “hanya” berhadapan dengan coast guard, lak nemen. Pakai penjaga pantai juga dong boss, bagaimana sih?!

Karena itu kita jauh jauh hari sejak 3 tahun yang lalu mengatakan, jangan sebut lagi di geografi Nusantara nama laut China selatan, ganti jadi LAUT NATUNA UTARA setidaknya dalam garis zona ekslusif 200 mil laut dan kawal dengan coast gurad kita (para) nelayan kita.

Berani ngak ubah? Katanya NKRI, katanya Pancasila, katanya membela bangsa dan negara. Takut sama “sabda” Tiongkok?

Ok maaf, belum belum kita sudah misu misu mengerundel, tapi kita bukan mereka, kita bukan hanya menghujat seperi buzzerp tanpa solusi, kita kasih solusi. Setuju? Solusi pertama ganti nama laut Natuna utara. Karena memang sejak ribuan tahun yang lalu wilayah tersebut adalah TRADITIONAL FISHING GROUND nelayan natuna. Kita harus punya “biji” mengklaim hal tersebut.

Solusi bernegara agar berdaulat, kita lanjut berikut ini.

Kita awali dengan pertanyaan. 

Apa beda platform dengan program? Nawacita itu platform apa program? 

Sebentar, ini belum-belum ditanggap sinis sama beberapa fans incumbent, yang sabar sedikit napa sih? Bisa ngak netral dulu bacanya? Saya ini ngak niat apapun kecuali memberikan pemahaman akan platform itu apa program itu apa?

“Tanpa platform”, program itu hanya propaganda. Itu sederhananya!

Program 35.000 megawatt, program pertumbuhan ekonomi 7%, program tidak import, program anti pengangguran 10 juta angkatan kerja? . itu semua program!!!

Sekarang platform apa? Mengapa bernegara harus punya platform. Karena itu berkali kali kita tanya kepada pejabat, yang kita tanya “mana platformnya”. Kalau tidak ada ya seperti nawacita saat ini bukan platform jadinya, ya hanya program. 

35.000 megawatt di tambah 5 tahun lagi juga ngak terealisir, pertumbuhan ekonomi ngak bakal 7%. Alasan perlambatan ekonomi dunia atau karena covid silahkan di pakai deh toh fansnya mayoritas, beruntung lah kau fans mu buanyak, si sontoloyo ini hatersnya yang banyak.

Ok, kita jelaskan sekarang. 

Untuk memahami platform harus memahami geoekonomi. Apa itu geoekonomi. Geo berasal dari kata geografi, atau letak sebuah wilayah (territorial) dalam peta bumi. Ekonomi ya dari ekonomi. Jadi kalau di artikan secara umum, geoekonomi adalah memanfaatkan semaksimal mungkin kekuatan geografi dalam menjalankan roda ekonomi.

Kalau geopolitik adalah memanfaatkan kekuatan geografi wilayah kita untuk kepentingan bangsa dan Negara dalam perpolitikan dunia.

Disini mulai terlihat secara kasat mata, mengapa “program” gagal ketika tidak memahami geoekonomi dunia dan Indonesia tidak punya geostrategi. Eh ngomong-ngomong faham ngak tuh di atas ada yang namanya geoekonomi dalam bernegara? Setiap Negara punya strategi geoekonominya.

Apa tugas Negara di dalam membangun platform? Yang sayangnya selama menjalankan program pembangunan selama ini tidak ada pondasi tersebut. Ok Ini saya kasih tahu ya, biar sah saya dibilang sontoloyo “sok tahu” yang selalu menganggap para menteri sekarang ngak faham.

Tugasnya pertama pejabat negara adalah “drawing” dan “re-drawing” map. Menarik gambar!!!

Tarik garis dan urek urek peta wilayah Indonesia. Misalnya warna merah kearah dalam adalah warna arus impor barang, biru keluar adalah flight capital atau arus uang keluar, hijau keluar artinya komiditas keluar, kuning panah masuk artinya arus tenaga kerja asing masuk. 

Petakan “maps” kondisi saat ini. lalu REDRAWING. Tarik gambar dan buat peta tadi berubah sesuai dengan keekonomian yang kita inginkan. Misalnya stop hutang, stop import, semua dari “re-drawing” ini. 

Setelah gambaran ulang tercipta, baru program di buat. Lah kalau program dibuat tanpa baca geoekonomi ya lucu, eh lucu apa geblek ya?

Belum lagi kalau kita baca geoekonomi singapura, geoekonomi Malaysia, geoekonominya Australia, panah yang kita buat bisa saling silang alias saling tembak.

Jangan Tanya “drawing” nya China dan Amerika dah!! Karena kita ngak ada tarik panah-panah tadi, kita jadi sasaran tembak mereka, semua panah ke kita dan ini sudah terjadi. Itulah saya terkadang bingung, ini para politikus ngerti beginian ngak? Ini para pejabat menegrti beginian ngak? Jadi pada ngapain selama ini? 

Kita ingatkan sejarah, ketika Gajah Mada menyatukan Nusantara di bawah panji gula kelapa merah putih, maka Gajah Mada MENARIK GARIS, draw maps, inilah Nusantara. Kemudian program dibuat agar garis platform bernegara tadi tercapai. Jadi pertnyaan terakhir, mana DRAW MAP nya masak kita ikut gambar kerja negara lain sih? Ya di kerjain lah!!! #peace

Penulis: Mardigu WP (dengan penyuntingan) 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

SIKAP BLAMER (PENUDUH) DAN RESPONSIBLE (TANGGUNG JAWAB)

SELAMATKAN ASET BANGSA, STOP ASING ASENG MASUK KE DALAM BUMI NUSANTARA PAKAI PASAL 33

MENGUBAH AMERIKA DAN DUNIA